Irfan Setiaputra

toward human networking

Bisnis Semakin Lebar dan Luas dengan Broadband

Di masa awal Internet di Indonesia, para pengguna masih cukup puas dengan koneksi dial-up yang relatif lambat, karena hanya digunakan untuk email, sedikit browsing, dan chatting. Masih ada yang ingat IRC, ICQ, atau bahkan BBS? Browsing pun juga masih sangat terbatas, karena browser (Mosaic, Netscape, dan versi awal Internet Explorer) belum menyediakan fitur-fitur yang sehebat sekarang. Internet sebagai sarana usaha? Belum terpikirkan secara dalam.

Seperti halnya perkembangan game yang mendorong inovasi hardware seperti kartu grafis, Internet mendorong kebutuhan akan broadband. Tampilan tidak lagi pasif, dan menjadi lebih interaktif. Teknologi push content mendorong kreativitas yang lebih tinggi dalam rancangan situs Web. Bermunculan berbagai format yang tampilannya menarik dan sebagian bahkan interaktif. Seiring dengan itu, pengguna meminta koneksi yang lebih cepat. Dari sisi bisnis, Internet mulai dijadikan pemikiran, karena kemudahan komunikasi yang ditawarkannya. Email semakin menjadi killer-app Internet, dan sarana chatting mulai bisa menjangkau infrastruktur lain seperti telepon rumah. Bisnis mulai melirik Internet sebagai sarana pendukung.

Semakin maju lagi, pengguna Internet mulai bergerak keluar dari ruang tempatnya mengakses. Notebook mulai dilengkapi dengan fitur nirkabel, sementara ponsel GPRS dan EDGE semakin marak. Bagaimana dengan koneksinya? Muncullah broadband, seperti koneksi cable yang ditawarkan oleh sebuah penyedia layanan televisi berbayar yang bekerja sama dengan beberapa ISP. Operator telekomunikasi selular juga mulai menawarkan layanan GPRS. Jarak antara perangkat komunikasi dan komputer semakin dekat.

Hingga kita tiba di masa sekarang. Konektivitas Internet menjadi ukuran produktivitas. Tidak ada Internet? Usaha seret. Tidak bisa kirim email? Client melayang. Tidak bisa update situs Web? Pesaing menyerang. Jatuh bangunnya sebuah bisnis menjadi semakin terkait dengan kemampuannya terhubung dengan dunia luar lewat Internet. Dan karena perkembangan konten yang sangat pesat, broadband merupakan syarat mutlak. Konten-konten seperti Voice over IP (VoIP), Video-on-demand, pertemuan video, semuanya mensyaratkan koneksi dengan kecepatan tinggi.

Hingga saat ini, koneksi broadband mungkin belum buat semua orang. Masih cukup banyak yang cukup puas dengan koneksi dial-up untuk sekedar browsing atau email. Tapi bagi yang memang membutuhkannya, tidak ada tawar menawar.

Seperti yang bisa dilihat dari evolusinya, pengguna merupakan pendorong teknologi ini. Karena itu, kita lah yang menentukan kemajuan dan perkembangan teknologi ini, khususnya bagi Indonesia. Prinsip ekonomi mengatakan semakin banyak permintaan, harga akan semakin murah. Semakin banyak pengguna broadband, biaya akses akan semakin terjangkau. Dan ini adalah efek berantai, karena jika harganya semakin murah, akan semakin banyak yang ingin menggunakan koneksi broadband. Semakin banyak orang yang melek Internet, sehingga “Kesenjangan Digital” menjadi semakin kecil. Efeknya? Daya saing Indonesia yang semakin tinggi di tingkat dunia. Tidak pelak lagi, broadband merupakan syarat kemajuan negara kita ini.

By Irfan Setiaputra on December 4th, 2008 |

There are 6 comments for “Bisnis Semakin Lebar dan Luas dengan Broadband”.

  1. amir

    saya kira bukan makin banyak permintaan yang membuat harga semakin murah, tapi karena kompetisi.

    December 16th, 2008 at 7:58 pm

  2. Ady

    Setuju Pak Amir, ini harus pula didukung oleh pemerintah. Selama pemerintah masih “gak niat” mencerdaskan bangsa, percuma saja.

    December 17th, 2008 at 3:34 am

  3. aqco

    perkembangan broadband harus diimbangi juga dengan perkembangan tools pendukung agar penggunaannya bisa lebih maksimal..

    December 20th, 2008 at 12:29 am

  4. anonymous

    agar cepat berkembang setiap trend teknologi,coba bekerja sama dengan unit-unit kampus ato unit-unit perangkat desa (waktu mereka lebih banyak).Ato ragu dengan kehandalan mrka, pesimis dng kmampuan prngkat desa. Kalo gitu, coba lo hidup zaman belanda :”Percaya gak lo,suatu saat nanti bakal ada org menginjak kaki ke Bulan ???”

    Contoh: BEM suatu kampus di ajak kerjasama untuk mengelola bisnis broadband tersebut untuk suatu tingkat kecamatan. Sambil men-set coorporate culture kpd mhsiswa.kemudian BEM atao UKM apalah namanya yang berlokasi lain kecamatan diajak kerjamasama juga untuk membangun bisnis tersebut.yang jelas Perusahaan tsb hrs membuat draft bisnis yang benar2 ciamik bagi kedua pemain utama stakeholder tsb (UKM Kampus dan Perusahaan tsb).

    Bisnis zaman skrg lamban berjalan, karena mnrut gua hanya brsifat “eksklusifitas”.Coba kita renungkan slogan CISCO “Welcome to the Human Network”, yach artinya kita semua berhak mendapatkan yang sama.Termasuk dalam hal dunia bisnis apa aja.

    Mungkin krn aturan-aturan kali yach membuat semuanya jadi eksklusif.yg jelas semua perusahaan kalo mau menjalankan “Network Community ” pasti semua berjalan cepat,setiap tren akan cepat tergantikan. Lihatlah dunia open source, mereka cepat berkembang, walaupun belum bisa menggeser Mircosoft. Karena penggiat open source ini, handal dlm teknikal. Nah coba dirubah network community’a dlm hal bisnis bukan teknisnya yg dgenjot.

    December 21st, 2008 at 10:38 pm

  5. Didin

    Pak irfan program Future Cisco System Ambassador kapan di adakan lagi ??. Kalo kemarin hanya roadshow ke 4 kampus : ITS,ITB,UI sama Binus. Semua berada di Pulau Jawa. Kalau bisa untuk perencanaan berikutnya tolong dipertimbangkan potensi-potensi yang ada di Sumatera, mungkin bisa dipusatkan di Medan.

    Trims

    January 12th, 2009 at 2:18 am

  6. Yully

    Saya setuju sekali dengan prinsip ekonomi tersebut. Karena jika usernya/konsumen sedikit, otomatis biaya implementasi infrastruktur akan dibebankan lewat produk yang dijual. Sehingga semakin banyak konsumen, harga akan semakin murah. Tentunya dengan catatan juga, bahwa semakin banyak konsumen, pesaing akan bermunculan dan persaingan ini akan memicu perang harga antar produsen. Perlunya pendidikan dan sosialisasi kepada masyarakat menjadi tanggung jawab pemerintah sebagai penyelenggara negara dan korporasi dalam kewajiban mereka di CSR. Apabila hal tersebut bisa berjalan secara konsisten dan berkesinambungan, maka saya yakin bangsa Indonesia akan tumbuh lebih pesat, khususnya teknologi informasi, dan secara tidak langsung meningkatkan peluang bisnis di negara ini. Terima kasih.

    January 27th, 2009 at 1:14 pm

Legal Disclaimer
Some of the individuals posting to this site, including the moderators, work for Cisco Systems. Opinions expressed here and in any corresponding comments are the personal opinions of the original authors, not of Cisco. The content is provided for informational purposes only and is not meant to be an endorsement or representation by Cisco or any other party. This site is available to the public. No information you consider confidential should be posted to this site. By posting you agree to be solely responsible for the content of all information you contribute, link to, or otherwise upload to the Website and release Cisco from any liability related to your use of the Website. You also grant to Cisco a worldwide, perpetual, irrevocable, royalty-free and fully-paid, transferable (including rights to sublicense) right to exercise all copyright, publicity, and moral rights with respect to any original content you provide. The comments are moderated. Comments will appear as soon as they are approved by the moderator.

© 1992-2007 Cisco Systems, Inc. All rights reserved.