Irfan Setiaputra

toward human networking

Recent Journal Entries

Semangat Internet Broadband Tidak Pernah Padam

Hari ini tanggal 30 Januari 2009, merupakan hari kerja terakhir saya di Cisco Indonesia, setelah hampir tujuh tahun. Sudah saatnya bagi saya untuk mengalihkan tongkat estafet dan memasuki tahap baru dalam kehidupan saya.

Namun gairah saya akan Internet, kolaborasi, dan jaringan masih tetap sama. Saya masih memimpikan sebuah Indonesia dengan seluruh penduduknya yang saling terhubung dengan media Internet broadband. Masa kerja saya di Cisco sudah membuka jalannya, sekarang penerus saya yang akan menggarap jalan tersebut. Sementara saya akan tetap menggiatkan semangat ini dari luar Cisco.

Apa tandanya broadband sudah masuk sampai ke rumah-rumah di Indonesia? Tidak ada lagi lapak-lapak yang menjual CD berisi MP3 dan DVD. Karena semuanya sudah bisa didownload dari rumah.

Obama sebelum dilantik menyempatkan berpidato di tempat yang sama di mana Martin Luther King Jr melakukan pidato  legendarisnya. Di tempat yang sama tersebut, Obama menggerakkan rakyatnya untuk tetap percaya kepada mimpinya, menyamakan mimpi setiap orang dan mengajak mereka bersama-sama mewujudkan mimpinya.

Mimpi adalah yang dimiliki dan dipelihara oleh setiap orang di dunia ini. Mimpi adalah tujuan bagi setiap manusia dalam menjalani hidupnya. Seperti cerita dari tetralogi Laskar Pelangi. Sebuah cerita tentang bagaimana tokoh utamanya, Ikal, memelihara mimpinya untuk terus hidup dan sekaligus perjuangannya untuk mewujudkan mimpi tersebut.

Walau setiap orang memiliki mimpi yang berbeda-beda, seorang pemimpin, baik di lingkungan terkecil sekalipun seperti keluarga sampai pemimpin yang melayani banyak orang di negaranya, harus bisa menerjemahkan semua mimpi yang dimiliki oleh setiap individu menjadi satu mimpi yang dimiliki dan diwujudkan bersama.

Indonesia sebagai satu negara besar memiliki mimpi. Bangsa ini pernah disebut dan diakui sebagai bangsa yang besar oleh banyak negara lain, dan sampai saat ini saya masih percaya bahwa Indonesia masih layak disebut sebagai bangsa yang besar. Selayaknya bangsa yang besar, seluruh rakyatnya dipersatukan oleh satu mimpi.

Satu mimpi tersebut adalah mampu bersanding dengan negara-negara lainnya karena keberhasilannya menyebarkan kesetaraan kesempatan bagi seluruh individu.

Pemerintah telah membangun infrastruktur transportasi untuk mempermudah rakyatnya bepergian. Perjalanan Jakarta - Surabaya - Jakarta bisa dilakukan dalam sehari, walaupun pelancong merasakan kelelahan fisik. Jalan tol dibangun untuk mempermudah perpindahan hasil bumi dan produksi pabrik sampai ke tangan pengguna. Ditambah sarana telekomunikasi, yang mempermudah setiap individu melakukan kontak suara tanpa dibatasi kabel lewat telepon mobile.

Tanpa harus melakukan perdebatan panjang, harus diakui bahwa infrastruktur yang dibangun telah memberikan kesempatan bagi lebih banyak orang untuk mewujudkan mimpinya, dibandingkan saat infrastruktur tersebut belum ada. Tetapi kebutuhan untuk dapat bersaing dan turut berdiri sejajar dengan negara yang lain turut berkembang. Dibutuhkan sesuatu yang lebih cepat dan secara langsung sampai ke tujuan.

Infrastruktur Internet broadband kini menjadi mimpi dari tidak sedikit individu di Indonesia. Internet broadband adalah masa depan yang menjadi garis depan, yang justru sekarang ini untuk lebih mendukung infrastruktur tranportasi yang sudah terbangun.

Sama seperti jalan tol yang menghubungkan dari kota ke kota. Daerah -daerah yang dihubungkan oleh jalan tol mempunyai kesempatan untuk saling bertransaksi dengan lebih cepat. Sementara daerah yang dilalui jalan tol juga mendapatkan kesempatan baru, dengan membuka restoran, pompa bensin, tempat peristirahatan dan lainnya.

Bukannya Indonesia belum memiliki Internet broadband. Layanan ini sudah tersedia namun distribusinya belum merata. Indonesia juga tidak bisa dibilang ketinggalan teknologi, karena buktinya beberapa teknologi justru pertama kali diluncurkan pertama di Indonesia.

Pilihan untuk menggelar Internet broadband juga cukup banyak tersedia, baik berbasis kabel maupun nirkabel. Untuk kabel, tersedia ADSL dan fiber optic. Untuk nirkabel tersedia hotspot di area publik, GPRS, 3G dan layanan ISP lokal kompleks rumahan. Dan masih ditunggu bagaimana kiprah Wimax di Indonesia. Ini semua menunjukkan teknologi yang siap digelar lebih luas.

Internet memiliki kekuatan lebih besar daripada jalan tol. Internet memberikan kesempatan untuk berhasil yang sama dengan seluruh penduduk di dunia. Jaringan Internet memiliki kecepatan super ekspres untuk sampai ke tempat tujuan, tepat di depan muka sasaran.

Tak heran jika Obama punya cita-cita untuk mendorong Internet bisa sampai ke setiap pelosok pertanian di Amerika. Obama menginginkan hasil bumi Amerika dapat dengan cepat dipromosikan dan diterima oleh belahan bumi yang lain.

Di Indonesia sendiri Internet juga telah digunakan oleh banyak pengusaha, termasuk UKM dengan jumlah pegawai kurang dari hitungan jari untuk menjangkau pasar lebih luas yaitu dunia. Para pengusaha dapat memangkas biaya rantai distribusi untuk lebih cepat mengantarkan produknya sampai ke tangan konsumen. Tanpa toko berbentuk fisik, tampilan virtual sudah menarik
banyak pengunjung untuk dari sekedar melihat dan berlanjut ke hubungan bisnis.

Pernah koneksi Internet Indonesia dengan dunia terputus, karena kabel bawah tanah di laut mengalami gangguan. Jika dipikir Indonesia tidak mengalami banyak pengaruh karena belum banyak pengguna Internet di Indonesia, pikir ulang kembali. Banyak orang baru merasakan kehilangan setelah yang biasa dinikmati tiba-tiba menguap begitu saja.

Pernah di suatu kala situs jejaring sosial terganggu untuk sementara waktu. Yang terjadi adalah timbunan protes melayang. Banyak yang tiba-tiba merasa kehilangan teman-temannya. Dan lebih banyak kerugian dalam hitungan mata uang karena toko virtualnya, yang digerakkan oleh ibu rumah tangga, untuk sementara waktu terpaksa tutup.

Para insan kreatif juga mendapat bintang jatuh dari berkah Internet. Indonesia, negara yang dulunya kurang terdengar memiliki sumber daya kreatif, tiba-tiba menjadi perhatian dunia karena ternyata menyimpan energi lebih panas dari perut bumi yang terus menerus tumbuh saat dieksplorasi.

Penggemar komik kini tidak hanya menjadi penggemar pasif saja. Mereka yang memiliki bakat meggambar dan menjalin cerita mendapat tempat di kancah komik internasional. Para artis independen bisa saja lebih terkenal di luar Indonesia dibandingkan di negeri sendiri, karena lagu-lagunya dapat dengan mudah didapat dan diperdengarkan lewat Internet.

Mereka, para pengusaha UKM dan insan kreatif adalah pahlawan Internet Indonesia yang tidak sering terdengar. Tanpa banyak kata-kata, mereka menjalankan saja apa yang mereka sukai untuk kemudian diolah menjadi penopang ekonomi. Mereka tidak menginginkan penghargaan, mereka hanya menginginkan kesempatan yang sama.

Tidak hanya sebagai pendukung ekonomi, Internet adalah infrastruktur yang juga punya peran penting dalam memberikan modal bagi suatu bangsa dalam menjalankan roda perekonomian. Untuk membuat mesin-mesin bergerak dalam kecepatan yang sama, Internet memberikan kesempatan yang setara bagi setiap individu di lokasi manapun untuk mendapatkan pengetahuan.

Kualitas pendidikan yang sama adalah yang didapat murid-murid di sekolah yang berlokasi di ujung Sumatera sampai ujung Papua. Para murid memiliki kesempatan untuk masuk ke perpustakaan digital yang menyimpan sumber ilmu, melahap segala literatur yang ditulis oleh para ahli. Para murid dapat memutar materi video e-learning kapan pun saat diperlukan. Para murid mendapatkan kesempatan yang sama mendapatkan pengajar dari lokasi yang berbeda melalui tayangan langsung video berkualitas tinggi, sehingga seakan-akan berada di dalam kelas yang sama walaupun berbeda lokasi.

Para pengajar dapat selalu meningkatkan kualitas pengajarannya, karena mereka dapat saling bertukar pikiran dengan mudah melalui forum diskusi virtual. Para peneliti dapat berkolaborasi dengan para peneliti mana pun untuk menghasilkan temuan riset yang kemudian dapat disebarkan ke para murid.

Kalau ditanyakan kepada saya, apakah kunci mencerdaskan sebuah bangsa, saat ini jawaban satu-satunya adalah Internet broadband. Kesetaraan menjadi kata kuncinya.

Dan siapa yang bertanggung jawab untuk mewujudkan mimpi ini? Kita semua. Tidak bisa menggantungkan mimpi ini ke pemerintah saja, ke para penyedia layanan Internet saja, atau ke para penyedia teknologi saja. Semuanya harus memiliki andil, termasuk pengguna akhirnya, yaitu para konsumen. Para konsumen juga harus tanpa lelah membuktikan bahwa Internet broadband bisa digunakan untuk hal-hal yang produktif sekaligus menghibur. Karena pada akhirnya, saat kita semua mendapatkan manfaat dari Internet broadband, para konsumennya lah yang menentukan untuk apa fasilitas ini dipergunakan.

Pada akhirnya, lelucon di awal tulisan ini hanya akan menjadi sekedar lelucon tanpa harus benar-benar terwujud.

Tanda-tanda sebenarnya dari berhasilnya broadband sampai ke seluruh penjuru Indonesia, adalah generasi Indonesia yang cerdas. Cerita Laskar Pelangi bisa berubah. Ikal dan teman-temannya tidak perlu lagi khawatir untuk tidak mendapatkan mutu pendidikan berkualitas tinggi hanya karena mereka tinggal di lokasi terpelosok.

Proses regenerasi berjalan dengan mulus. Para pemikir muda, para pengusaha muda, para insan kreatif muda bergandengan dengan para seniornya membangun negeri yang dibanggakan ini. Tidak ada jalan lagi bagi mereka yang mencoba membodohi bangsa ini.

Mimpi ini tidak hanya untuk mereka yang hidup di tahun ini atau lima tahun ke depan. Tapi diteruskan untuk generasi berikut.

Dan kepada generasi berikut saya menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan Cisco Indonesia dalam mengembangkan Internet broadband. Tapi bukan berarti saya hanya akan berpangku tangan. Dalam kapasitas apa pun, setiap orang bisa dan mampu berkontribusi dalam pengembangan ini, termasuk saya.

Kepada teman-teman semua, saya ucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya atas dukungannya selama ini, khususnya melalui blog ini. Saya akan vakum sebentar dari dunia blogging, dan kembali lagi dengan semangat baru.

Jadi, meskipun mulai besok sudah tidak ada lagi “Irfan Setiaputra, Managing Director, Cisco Indonesia”, tapi masih akan tetap ada “Irfan Setiaputra, pemerhati dan pengguna Internet Broadband Indonesia.” Mari kita berjuang bersama demi mewujudkan mimpi kita ini.

By Irfan Setiaputra on January 30th, 2009 | 15 comments »

Bisnis Semakin Lebar dan Luas dengan Broadband

Di masa awal Internet di Indonesia, para pengguna masih cukup puas dengan koneksi dial-up yang relatif lambat, karena hanya digunakan untuk email, sedikit browsing, dan chatting. Masih ada yang ingat IRC, ICQ, atau bahkan BBS? Browsing pun juga masih sangat terbatas, karena browser (Mosaic, Netscape, dan versi awal Internet Explorer) belum menyediakan fitur-fitur yang sehebat sekarang. Internet sebagai sarana usaha? Belum terpikirkan secara dalam.

Seperti halnya perkembangan game yang mendorong inovasi hardware seperti kartu grafis, Internet mendorong kebutuhan akan broadband. Tampilan tidak lagi pasif, dan menjadi lebih interaktif. Teknologi push content mendorong kreativitas yang lebih tinggi dalam rancangan situs Web. Bermunculan berbagai format yang tampilannya menarik dan sebagian bahkan interaktif. Seiring dengan itu, pengguna meminta koneksi yang lebih cepat. Dari sisi bisnis, Internet mulai dijadikan pemikiran, karena kemudahan komunikasi yang ditawarkannya. Email semakin menjadi killer-app Internet, dan sarana chatting mulai bisa menjangkau infrastruktur lain seperti telepon rumah. Bisnis mulai melirik Internet sebagai sarana pendukung.

Semakin maju lagi, pengguna Internet mulai bergerak keluar dari ruang tempatnya mengakses. Notebook mulai dilengkapi dengan fitur nirkabel, sementara ponsel GPRS dan EDGE semakin marak. Bagaimana dengan koneksinya? Muncullah broadband, seperti koneksi cable yang ditawarkan oleh sebuah penyedia layanan televisi berbayar yang bekerja sama dengan beberapa ISP. Operator telekomunikasi selular juga mulai menawarkan layanan GPRS. Jarak antara perangkat komunikasi dan komputer semakin dekat.

Hingga kita tiba di masa sekarang. Konektivitas Internet menjadi ukuran produktivitas. Tidak ada Internet? Usaha seret. Tidak bisa kirim email? Client melayang. Tidak bisa update situs Web? Pesaing menyerang. Jatuh bangunnya sebuah bisnis menjadi semakin terkait dengan kemampuannya terhubung dengan dunia luar lewat Internet. Dan karena perkembangan konten yang sangat pesat, broadband merupakan syarat mutlak. Konten-konten seperti Voice over IP (VoIP), Video-on-demand, pertemuan video, semuanya mensyaratkan koneksi dengan kecepatan tinggi.

Hingga saat ini, koneksi broadband mungkin belum buat semua orang. Masih cukup banyak yang cukup puas dengan koneksi dial-up untuk sekedar browsing atau email. Tapi bagi yang memang membutuhkannya, tidak ada tawar menawar.

Seperti yang bisa dilihat dari evolusinya, pengguna merupakan pendorong teknologi ini. Karena itu, kita lah yang menentukan kemajuan dan perkembangan teknologi ini, khususnya bagi Indonesia. Prinsip ekonomi mengatakan semakin banyak permintaan, harga akan semakin murah. Semakin banyak pengguna broadband, biaya akses akan semakin terjangkau. Dan ini adalah efek berantai, karena jika harganya semakin murah, akan semakin banyak yang ingin menggunakan koneksi broadband. Semakin banyak orang yang melek Internet, sehingga “Kesenjangan Digital” menjadi semakin kecil. Efeknya? Daya saing Indonesia yang semakin tinggi di tingkat dunia. Tidak pelak lagi, broadband merupakan syarat kemajuan negara kita ini.

By Irfan Setiaputra on December 4th, 2008 | 6 comments »

Krisis Ekonomi: Peluang dan Efisiensi Lewat Kolaborasi

Tidak dipungkiri lagi, situasi krisis keuangan dunia sudah mulai dirasakan di Indonesia, bahkan untuk perusahaan-perusahaan besar. Tidak terkecuali bagi Cisco. Berbagai upaya efisiensi dilakukan untuk menekan pengeluaran. Uniknya, lewat efisiensi ini Cisco bisa sekaligus memperlihatkan penggunaan jaringan sebagai platform kolaborasi dalam meningkatkan produktivitas tanpa harus melakukan perjalanan jauh. Meeting di luar kota? Lakukan saja secara online. Irit waktu, irit BBM, irit biaya, tanpa pegal-pegal karena perjalanan jauh.

Ini merupakan bahasan dalam kopi darat blog yang diadakan di Bandung, hari Kamis, tanggal 20 November minggu lalu. Dalam suasana santai yang diiringi rintik-rintik hujan, saya dan rekan-rekan blogger berdiskusi tentang apa yang sedang dihadapi perusahaan di Indonesia dalam situasi keuangan saat ini dan apa yang sebaiknya dilakukan.

Dalam acara bincang-bincang ini juga dibahas mengenai pengaruh jejaring sosial bagi para penggunanya dalam berkolaborasi. Facebook misalnya, yang dinilai sebagai sebuah sarana dalam berkomunikasi. Atau LinkedIn, yang bisa dimanfaatkan untuk melihat peluang kerja atau karir. Dan tidak lupa juga dibahas mengenai blog.

Seperti kopi darat yang dilakukan di Jakarta sebelumnya, banyak yang saya dapatkan dari bincang-bincang di Bandung ini. Saya ucapkan terima kasih atas kehadiran rekan-rekan, dan juga atas masukan-masukannya. Sampai berjumpa lagi di kopi darat berikutnya.

By Irfan Setiaputra on November 28th, 2008 | 6 comments »

“Kopi Darat” di Bandung

Bandung merupakan sebuah kota yang memiliki arti tersendiri bagi saya, karena saya pernah tinggal di sana selama lebih dari delapan tahun. Apalagi sekarang kita bisa mencapai kota ini dari Jakarta dengan lebih cepat berkat adanya jalan tol Cipularang. Tidak usah lagi dipusingkan macet di daerah Puncak atau Cianjur, kecuali kita memang ingin jalan-jalan dan belanja.

Nah, sesuai dengan harapan saya ketika mengadakan acara diskusi langsung atau “kopi darat” di Jakarta bulan Agustus yang lalu, bagaimana kalau kita bertemu di Bandung? Waktunya adalah hari Kamis, tanggal 20 November 2008, di sore hari. Tentunya setelah jam kerja. Acaranya? Berdiskusi tentang bagaimana  pengaruh krisis ekonomi global yang sedang terjadi saat ini terhadap perkembangan dunia TI Indonesia pada khususnya, dan terhadap negara ini secara umum.

Silakan diinfo kesediaan Anda untuk hadir di forum komentar di bawah posting ini, atau lewat email ke stephen@karyaku.com. Jangan lupa mencantumkan detil kontak seperti nama, email dan nomor telepon (yang tentu saja tidak akan dipublish) supaya Anda bisa dikontak kembali, dengan detil tempat acara.

Saya tunggu kehadiran rekan-rekan.

By Irfan Setiaputra on November 14th, 2008 | 5 comments »

Definisi Broadband

Apa ukurannya layanan Internet yang kita terima sudah memenuhi apa yang disebut dengan broadband? Kalau diukur dari angka, apakah 128, 356, 512 kbps atau yang lebih tinggi lagi?

Layanan dial-up sudah pasti bukan broadband. Kecil kalau diukur secara angka dan seharusnya kita sekarang ini sudah melampaui era dial-up (walaupun layanan ini masih ada). Seharusnya sudah lewat masa-masa kita terkoneksi ke Internet, bermaksud untuk mengunduh email, kita tinggal bikin kopi dan kembali ke komputer belum semua email terunduh.

Masing-masing orang bisa jadi punya pendapat sendiri karena yang disebut broadband juga sesuai kebutuhan. Kebutuhan tersebut bisa sekedar browsing, atau tingkatan berikutnya bisa menyalurkan suara dan menonton video, atau tingkat berikutnya lagi melakukan kolaborasi dengan beberapa orang dengan menggunakan berbagai aplikasi. Di antara semua kebutuhan tersebut, apa kesepakatannya bahwa layanan Internet layak disebut sebagai broadband?

Buat saya, ada indikator sederhana kalau layanan Internet yang dipakai sudah broadband atau tidak. Ini adalah indikator paling minimal, sekali lagi menurut saya. Kalo saya bisa nonton YouTube tanpa putus-putus, maka ini cukup broadband sudah.

By Irfan Setiaputra on November 10th, 2008 | 5 comments »

Surga atau neraka digital?

Saya yakin kita semua pernah mendengar istilah “home, sweet home”. Kita tentu senang pulang ke rumah yang nyaman setelah seharian bekerja keras. Tapi ada juga yang pulang hanya untuk beristirahat, tapi tidak merasa nyaman. Yang bisa membuat sebuah rumah menjadi “rumah” adalah upaya kita sendiri. Mungkin kita bisa menambah atau mengurangi sesuatu, seperti sofa, lemari, atau perabot-perabot lain.

Nah, sekarang kita melangkah lebih lanjut lagi. Kita bisa menemukan banyak perangkat digital di tiap orang, seperti ponsel, laptop, pemutar MP3, dan sebagainya. Pokoknya yang membuat kita merasa nyaman ketika di jalan, kantor, dan sebagainya. Tapi bagaimana dengan rumah kita? Ada banyak teknologi, solusi, atau perangkat yang bisa membuat kita nyaman. Dan setiap orang pastinya memiliki ide masing-masing tentang rumah idaman yang sudah dilengkapi teknologi yang membuat segalanya nyaman. Mari kita sebut ini sebagai “Surga Digital”.

Ada surga, ada neraka. “Neraka Digital” adalah rumah yang perangkat-perangkatnya tidak saling terkoneksi atau berkomunikasi dengan mudah, kabel bersliweran di sana sini. Pokoknya tempat di mana teknologi justru terasa menyusahkan.

Jika ada di antara anda yang merasa hidup dalam surga atau neraka digital, Cisco memberikan kesempatan bagi anda untuk memenangkan hadiah sebesar US$ 10.000, dengan mengirimkan video dengan durasi tiga menit, yang menjelaskan bagaimana penggunaan jaringan di rumah anda bisa disebut sebagai surga atau neraka digital, dalam kontes video “Digital Cribs: Heaven or Hell”. Ada dua hadiah utama, masing-masing untuk kategori surga dan neraka. Selain itu, sepuluh finalis akan menerima voucher senilai US$ 500. Video bisa diserahkan paling lambat tanggal 26 November 2008.

YouTube Preview Image

Video yang disertakan dalam kontes akan ditayangkan di digitalcribs.com agar dapat dilihat dan dinilai oleh publik dari tanggal 28 Oktober sampai 5 Desember 2008. Para pemenang akan ditentukan dari jumlah penonton, nilai rata-rata dan penilaian dewan juri dari Cisco. Makin cepat video dimasukkan, maka makin besar kesempatan menjaring penonton dan nilai. Pemenang akan diumumkan pada tanggal 8 Desember 2008.

Berminat? Kunjungi http://www.cisco.com/web/consumer/heaven_or_hell/terms.html untuk syarat dan ketentuan. Saya tunggu video-video anda! Saya yakin ada banyak ide yang menarik tentang surga dan neraka digital.

Link:

By Irfan Setiaputra on November 5th, 2008 | Comments Off

Kamera dalam Kelas Bukanlah Interaksi

Dunia pendidikan mendapat tantangan yang berat dalam menghadapi arus deras inovasi teknologi informasi. Tantangan pertama adalah memaksimalkan pemanfaatan TI untuk memperkaya pengalaman edukasi. Dan tantangan kedua adalah mempertahankan pengalaman edukasi yang menarik di dalam kelas.

Saya cukup terkejut mendengar dari teman saya bahwa ada mahasiswa yang memasang kamera video dan meninggalkan laptop di kelas untuk merekam perkuliahan, sedangkan mahasiswanya sendiri tidak hadir di dalam kelas. Ini artinya pengalaman di kelas dinilai tidak asyik lagi oleh mahasiswa jaman sekarang.

Tapi ini kasus tertentu saja yang tidak bisa digeneralisasi. Tapi ini juga memperlihatkan adanya gejala tersebut.

Dalam kondisi ini, yang dulunya disebut pengajar harus didefinisikan ulang menjadi fasilitator. Para pengajar atau fasilitator sekarang ini dituntut untuk kreatif dalam menyajikan materinya di kelas. Kalau jaman dulu cukup dengan OHP, sekarang harus memakai aplikasi presentasi yang atraktif.

Selain itu para fasilitator tidak bisa hanya memaparkan apa yang sumbernya dari buku saja, karena siswa bisa mendapatkan bahan tersebut dan materi lainnya di Internet. Ketik saja keywords di Google atau Wikipedia, maka informasi yang dicari akan muncul di layar. Fasilitator harus mampu untuk memfasilitasi rasa haus siswanya akan pengetahuan yang asalnya bisa didapat oleh mereka dari buku sendiri ataupun dari sumber informasi lain. Siswa akan mendapat nilai tambah, jika sosok yang berdiri  di depan kelas dapat berbagi pengetahuan dan pengalaman yang para siswa baru dalam tahap mengkhayalkannya.

Kembali ke arus teknologi informasi, pengajar didorong untuk memperbanyak porsi interaksi dua arah dengan muridnya, suatu pengalaman yang tidak bisa didapat hanya dengan cara merekamnya saja. Di luar kelas juga kalau memungkinkan para pengajar membuka saluran informasi, sehingga murid masih bisa berinteraksi. Membuka kelas virtual di Facebook bisa juga menjadi salah satu jalan agar rasa ingin tahu siswa dapat difasilitasi.

Atau gabungkan kelas yang berada di lokasi lain, dengan menggunakan video, untuk menambahkan semarak diskusi. Lagian  kesempatan bertemu murid lain dari sekolah lain biasanya suatu kesempatan yang tidak akan dilewatkan.

By Irfan Setiaputra on October 22nd, 2008 | 1 comment »

Catatan Hari Raya Idul Fitri 1429 H

Hari Raya Idul Fitri menempati posisi istimewa di Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim. Terlihat dari libur satu minggu penuh, manajemen mudik dan lonjakan trafik di operator telekomunikasi.

Selain pemerintah yang sibuk menangani arus mudik dan kembali ke kota, yang tahun ini memasang kamera CCTV sepanjang jalur Pantura untuk memantau langsung manajemen lalu-lintas, pihak yang juga sibuk adalah operator telekomunikasi. Para operator telekomunikasi sudah berjaga-jaga untuk menjaga kualitas layanan sepanjang jalur mudik. Jadi jika terjebak kemacetan, pemudik masih bisa menelpon atau sekedar bertukar SMS.

Selain itu operator telekomunikasi juga mengantisipasi lonjakan trafik SMS yang berisikan selamat ber-Lebaran. Saya sendiri saja bisa mengirimkan pesan ke ratusan nomor telepon. Untungnya telepon sekarang sudah canggih. Tak perlu klik send satu persatu untuk setiap pesan. Cukup ketik satu pesan dan kirim ke satu grup.

Untuk tahun ini rasanya tren SMS ucapan selamat Hari Raya masih belum tergantikan. Walaupun operator telekomunikasi sudah menyediakan layanan video, tetapi ucapan selamat Hari Raya dengan cara kreatif lewat video belum banyak dilirik. Padahal dengan video, kita bisa berkirim salam dengan lebih ekspresif. Mungkin saja tren ini baru muncul tahun depan. Biasanya di Indonesia perlu pemicu dulu sebelum menjadi tren luas.

Juga dalam kesempatan ini tidak lupa ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada para petugas yang mendedikasikan waktunya memberikan kenyamanan pada Hari Raya ini. Dan juga bagi mereka yang menikmati Hari Raya, lupakan sejenak aktivitas rutin sehari-hari. Rayakan kemenangan bersama keluarga dan teman.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H. Mohon maaf lahir dan batin.

By Irfan Setiaputra on September 26th, 2008 | 1 comment »

Insentif untuk Kerja dari Rumah

Pemerintah berencana untuk menaikkan pajak kendaraan. Apakah itu akan berdampak untuk mengurangi volume kendaraan dan berefek pada kurangnya kemacetan, setelah kenaikan harga bensin tidak banyak memberi pengaruh padatnya jalanan? Kita lihat saja nanti.

Bicara tentang mengurangi kemacetan, seharusnya ada usaha push and pull. Sementara pajak kendaraan dinaikkan, sekalian naikkan tarif yang lain: tol, parkir, masuk jalan protokol dan sebagainya. Kemudian perluas wilayah 3-in-1, berlakukan pembatasan dengan plat nomor kendaraan tertentu di hari tertentu pula. Pokoknya segala cara agar orang dibuat malas bawa kendaraan.

Tetapi di sisi lain, kualitas transportasi publik juga harus ditingkatkan, menjadi lebih aman dan nyaman. Pemasukan yang didapatkan dari pajak kendaraan, tol, parkir, dan sebagainya itu bisa digunakan untuk memperbaiki kualitas transportasi publik ini. Dan kalau jalanan lengang, mustinya jadi tepat waktu. Dan karena jalanan lengang pula serta bertambahnya calon penumpang, para pengendara kendaraan umum tidak perlu ugal-ugalan untuk menyalip kendaraan lain dan berebut penumpang. Hasilnya adalah jalan raya yang lebih aman bagi seluruh penggunanya.

Dan ide menarik yang lain adalah pemerintah memberi insentif bagi perusahaan yang mendorong karyawannya untuk bekerja dari rumah. Banyak keuntungan yang bisa didapatkan pemerintah dari hal ini. Yang paling jelas adalah penghematan penggunaan daya listrik dan penurunan emisi karbon kendaraan bermotor. Penghematan daya listrik tentunya sesuai dengan situasi saat ini.

Selanjutnya perusahaan mengembalikan insentif tersebut bagi karyawannya yang bekerja dari rumah. Jika karyawannya bekerja dari rumah, si karyawan bisa bekerja dengan lingkungan yang baginya sudah nyaman dan kondusif untuk bisa melakukan pekerjaannya secara lebih efektif. Ini juga berguna untuk mendidik perusahaan-perusahaan supaya lebih berorientasi kepada hasil pekerjaan, bukan proses pekerjaannya.

Silakan post komentar. Saya terbuka untuk saran dan kritik.

By Irfan Setiaputra on September 10th, 2008 | 7 comments »

“Kopi Darat”

kopidarat01.jpg

Bagi para pengguna radio amatir, “kopi darat” merupakan istilah untuk acara pertemuan. Ketika timbul ide untuk mengadakan acara ketemuan dengan rekan-rekan pembaca blog ini, terpikir untuk menggunakan istilah yang sama. Maklum, di dunia TI kita selalu pakai kode untuk prototipe produk. Jadi, “kopi darat” dipakai untuk kode acara diskusi. Berhubung jadwal saya yang kebetulan akhir-akhir ini sangat padat, persiapan acara ini harus dilakukan dalam waktu yang sangat singkat.

Acara yang dihadiri sekitar 10-an orang ini berlangsung dalam suasana yang santai. Maklum, diadakannya setelah jam kerja, jadi buat apa kita terlalu serius? Tapi bukan berarti materi diskusinya “kacangan”.  Berbagai topik dibahas, kebetulan berhubungan dengan isu telekomunikasi yang saat ini sedang hangat. Banyak masukan yang saya dapatkan dari acara ini, dan saya juga berharap ada masukan dari saya yang bisa berguna bagi rekan-rekan yang hadir. Di sela-sela jadwal kegiatan saya yang padat, sangat menyenangkan untuk bisa berbagi pikiran secara langsung.

Mohon maaf bagi rekan-rekan yang tidak sempat hadir, dan terima kasih bagi rekan-rekan yang sudah datang. Saya merencanakan untuk lebih sering mengadakan acara semacam ini. Mungkin lain kali bisa diadakan di luar Jakarta, untuk mengakomodir rekan-rekan yang tidak berada di ibukota ini.

kopidarat02.jpg

By Irfan Setiaputra on August 19th, 2008 | 7 comments »

Legal Disclaimer
Some of the individuals posting to this site, including the moderators, work for Cisco Systems. Opinions expressed here and in any corresponding comments are the personal opinions of the original authors, not of Cisco. The content is provided for informational purposes only and is not meant to be an endorsement or representation by Cisco or any other party. This site is available to the public. No information you consider confidential should be posted to this site. By posting you agree to be solely responsible for the content of all information you contribute, link to, or otherwise upload to the Website and release Cisco from any liability related to your use of the Website. You also grant to Cisco a worldwide, perpetual, irrevocable, royalty-free and fully-paid, transferable (including rights to sublicense) right to exercise all copyright, publicity, and moral rights with respect to any original content you provide. The comments are moderated. Comments will appear as soon as they are approved by the moderator.

© 1992-2007 Cisco Systems, Inc. All rights reserved.